CERSIUS #1 ADA YANG SALAH
Di kesempatan kali ini saya ingin menulis tentang sulitnya mencari pekerjaan di negara tercinta ini. awalnya saya berpikir bahwa susahnya mencari pekerjaan itu bukan salah pemerintahan, melainkan tanggung jawab individu. Mindset tersebut perlahan beraganti seiring saya merasakannya sendiri. Saya rasa masalah susahnya mencari pekerjaan saat ini bukan sepenuhnya tanggung jawab perorangan atau individu. banyak sekali faktor yang membuat masalah ini tak kunjung usai dan saya sadar bahwa ada yang salah di negeri ini.
Saya yakin betul bahwa masalah pengangguran di negeri ini adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab pemerintahan, Pemilik Perusahaan dan pengangguran itu sendiri. Sampai hari ini saya yakin bahwa pemerintah juga tidak tutup mata dalam melihat kasus ini. terbukti dari berbagai upaya dan kebijakan yang telah dijalankan. Misalnya, Adanya program kartu prakerja yang hari ini sedang menuai banyak kritikan. Menurut saya progam ini sangat membantu masyarakat luas (khususnya kaum pengangguran). Progam ini menawarkan bantuan pelatihan dan uang insentif dengan total uang sebesar Rp. 3.400.000 (kalau tidak salah) per orang. Menurut saya itu adalah jumlah yang sangat cukup bagi kaum pengangguran untuk mendapatkan softskill maupun hardskill baru sebagai bekal mencari pekerjaan. Namun saya rasa progam ini memiliki banyak celah dan resiko terjadinya salah sasaran.
Progam kartu prakerja saat ini memprioritaskan masyarakat yang tedampak covid-19 seperti PHK dan ditutupnya usaha-usaha mereka. ketika saya mendaftar kartu prakerja, ada pertanyaan "apakah anda salah satu orang yang kehilangan pekerjaan karena dampak covid-19" karena kebetulan saat itu saya sedang jujur, saya jawab tidak, karena sebelum adanya corona virus ini saya sudah menganggur. Hal ini merupakan salah satu celah yang bisa dimanipulasi bagi calon pendaftar, bisa saja saya waktu itu menjawab "iya saya sangat terdampak". Hal kedua yang membuat progam ini sangat beresiko salah sasaran adalah pelatihan saat ini dilakukan secara daring/online. Pemerintah bekerja sama dengan berbagai platform penyedia jasa pelatihan online seperti ruangguru, tokopedia, bukalapak, sekolahmu dan lain-lain. Poin salah sasaran disini adalah pelatihan online membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit, butuh perangkat laptop atau minimal Hp, headset dan perangkat penunjang lainya. Sedangankan dana yang diperoleh masing-masing peserta sekitar Rp 3,4 jt, dipotong biaya pelatihan sebesar satu juta (uang insentif diberikan bertahap selama 4 bulan jadi Rp. 600.000 per bulan). okelah kalau semisal peserta yang bersangkutan sudah memilki perangkat yang memadai seperti laptop dan koneksi wifi yang kencang. Tapi kita setuju bahwa tidak semua orang memiliki perangkat yang memadai. Di sini sangat berpotensi terjadinya ketidakhadiran peserta yang bersangkutan.
Selain itu, pelatihan online ini menjadikan variasi jenis pelatihannya juga terbatas. Kelemahan program ini menurut saya adalah tidak menampilkan pelatihan-pelatihan jenis apa saja yang tersedia pada awal pendaftaran, atau setidaknya dicantumkan diwebsite resminya. Namun sayangnya sampai saat ini tidak ditemukan. Hal ini juga membuat progam ini menjadi ajang modus untuk mendapatkan uang saku dengan mengikuti pelatihan secara formalitas. Tak peduli apa jenis pelatihannya yang penting ikut dan mendapatkan uang saku. Misalnya tukang ojek online, mendaftar progam prakerja dan memilih pelatihan cara design UI/UX. Memang tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat, namun alangkah baiknya jika pelatihan tersebut bisa mengupgrade kinerja orang tersebut di dalam pekerjaannya.
oke sekian dulu cerita serius pertama ini, karena saya tak suka menulis lama-lama dan harus melakukan kegaitan lain. sampai berjumpa dikesempatan selanjutnya. Goodbye dan Terimakasih banyak atas waktunya.
Komentar
Posting Komentar